Jumat, 10 Juli 2015

Menanti Kehamilan

Menanti, apakah aku letih? Aku juga tak bisa menjawabnya? Tapi menanti adalah sebuah kata yang begitu familiar terdengar ditelingaku dan hari-hariku. Lama aku tak menggoreskan tintaku baik di media maya maupun laptop pribadiku.
Entah pagi ini aku merasa rindu dengan aktivtas menulis ini, kini tak ada ingin lagi tulisan ini di baca banyak orang hanya inginku tulisan ini bisa membuatku lebih kuat menjalani kehidupan yang aku hampir saja menyerahkan asaku tanpa imbalan keberkahan Tuhan. Naas memang, aku sempat berkali-kali terjatuh bahkan tersungkur dengan pembelajaran yang Tuhan berikan lewat interaksiku dengan ciptaanNya, berkali-kali menangis letih penuh isak apakah aku tetap menjadi wanita yang sempurna karena mempunyai keluarga dan pendamping hidup yang begitu sempurna, meski tak ada yang sempurna di dunia ini kecuali kesempurnaan Tuhan itu sendiri. Banyak peristiwa yang membuat diri menjadi begitu mengecil, rapuh dan hina banhwa memang hanya Tuhan yang mempunya jutaan bahkan tak terhingga tentang kebesaran. Sabar,  ya percakapan itu yang menjadi secawan madu bagiku dan suami kala fajar mulai menyingsing, sabar itu proses, sebuah proses olah raga, olah otak dan olah hati. Saat hati masih ada titik hitam meski ia hanya sedikit berarti kita belum sabar secara sempurna.
“ Mas, apakah yang lain juga sama diuji oleh Allah tentang kesabaran?” tanyaku seraya menatap langit dengan kebiruannya.
“Ya, sayang. Semua manusia pasti diuji tentang kesabarannya, dan itu pada bagian yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya”
---
Iri, penyakit hati satu ini sepertinya menjadi raja diantara beberapa penyakit hati yang lainnya. Iri? Apakah aku pernah mengalaminya, jawabanya cukup pasti bahkan aku masih sering mengidap sakit ini, dan aku berharap Tuhan akan memberiku kesembuhan dengan terapi-terapi yang kujalani saat ini. Kadang karena kusamnya hatiku sering aku menanyakan apakah Tuhan tidak mendengar doaku? Disaat hambaNya sama-sama meminta dan ada beberapa hal yang lebih dulu aku meminta tapi aku selalu menjadi yang terakhir? Astaghfirulloh aku menangis dengan pemikiran hitam seperti itu. Aku tau pemikiran inilah yang mungkin membuatku menjadi wanita penanti lebih lama dibanding lainnya. Ya, aku sedang belajar menerima setiap takdir yang sudah Tuhan Tulis untukku, aku belajar menerima bahwa tidak semua yang kuinginkan hari ini harus ada hari ini juga, belum saatnya, ya mungkin karena aku belum dewasa, aku belum menjadi sekuat baja dan setegar karang, Subhanallah aku menemukan sebuah cahaya, bahwa aku sedang dipersiapkan Tuhan menjadi Wanita kuat yang tidak mempunyai penyakit hati, Tuhan sedang menyembuhkan penyakitku hingga ketika aku mempunyai seorang anak kelak aku tidak mekapan menularinya dengan penyakitku yang sama ini. Aku tergugu bahwa penantian ini begitu luar biasa, begitu membuatku menjadi orang yang lebih cerdas dan pintar memaknai setiap titik takdir Tuhan. Dan aku yakin Tuhan tidak akan meninggalkan hambaNya. Tuhan tidak akan membiarkan hambanya menangis lebih lama, dan Tuhan akan menyeka air mata penantian ini dengan sebuah hadiah yang mungkin biasa bagi manusia lainnya dan menjadi begitu berharga dan sempurna bagiku. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari berdiskusi dengan hati